PENDIDIKAN KARAKTER DI PONDOK PESANTREN

        Menurut Depdiknas (2010), pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas tersebut, secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konaktif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka perkembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan. Artinya, perkembangan karakter dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial, masyarakat, dan budaya bangsa.

        Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila, jadi pendidikan budaya dan karakter adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peseta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik. Karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin luas pula ragam ilmu yang didapat dari seseorang dan akibat yang akan didapatkannyapun semakin besar jika tanpa ada landasan pengertian pendidikan karakter yang diterapkan sejak usia dini. Sehingga tingkat pengertian pendidikan karakter seseorang juga merupakan salah satu alat terbesar yang akan menjamin kualitas hidup seseorang dan keberhasilan pergaulan di dalam masyarakat.

        Di samping pendidikan formal yang kita dapatkan, kemampuan memperbaiki diri dan pengalaman juga merupakan hal yang mendukung upaya pendidikan seseorang di dalam bermasyarakat. Konsep Pendidikan Karakter dan Pendidikan Berbasis Pesantren Secara konsepsional, pendidikan karakter terdiri dari dua kata, yaitu pendidikan dan karakter. Sementara itu, kata karakter sendiri bermakna watak, tabiat, dan perilaku dari seseorang yang dihasilkan melalui proses internalisasi dari berbagai konsep kebijakan yang dapat dijadikan landasan dalam kehidupan sehari-hari. Membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan prilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, orang yang berkarakter dapat disebut juga orang yang berkepribadian.

        Tujuan pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan nilainilaiyang membentuk karakter bangsa, yaitu Pancasila, meliputi: (1) mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berhati baik, berperilaku baik, dan berpikiran baik; (2) membangun bangsa yangberkarakter Pancasila; dan (3) mengembangkan potensi agar mempunyai sifat percaya diri, bangga terhadap Negaranya dan bersikap baikkepada orang lain.5 Dilihat dari fungsinya, pendidikan karakter berfungsi untuk: (1) membangun kehidupan yang multikultural; (2) membangun kehidupan Bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, dan berkontribusi dalam pengembangan kehidupanmanusia; dan (3) membangun sikap yang cinta damai, kreatif, dan mandiri. Dari ketiga fungsidapat dipahami bahwa cara bersikap kepada orang lain yang berbeda merupakan salah satu instrument sukses tidaknya pendidikan karakter yang diimplementasikan.

        Pendidikan karakter mempunyai peran yang penting untuk menjaga karakter kebaikannya sepanjang hayatnya dan pesantren adalah lembaga pendidikan dengan bentuk khas sebagai proyeksi totalitas kepribadiannya (Sayid Fuad, 1975: Imam Bawani merumuskan beberapa poin mengenai ciri-ciri pendidikan di pesantren, yakni sebagai berikut (Imam Bawani, 1993: 99-100): Adanya hubungan yang akrab antara santri dengan kyai. Namun dalam kenyataannya di lapangan banyak usaha yang telah dilakukan orang dalam membentuk karakter yang baik.

        Adapun metode pendidikan pembinaan Karakter adalah: Metode keteladanan Metode keteladanan adalah suatu metode pendidikan dengan cara memberikan contoh yang baik kepada peserta didik, baik di dalam ucapan maupun perbuatan (Syahidin, 1999: 135). Ahli pendidikan banyak yang berpendapat bahwa pendidikan dengan teladan merupakan metode yang paling berhasil guna. Metode memberi nasihat Abdurrahman al-Nahlawi sebagaimana dikutip oleh Hery Noer Aly mengatakan bahwa yang dimaksud dengan nasihat adalah penjelasan kebenaran dan kemaslahatan dengan tujuan menghindarkan orang yang dinasihati dari bahaya serta menunjukkannya ke jalan yang mendatangkan kebahagiaan dan manfaat(Syahidin, 1999: 190).

        Kemudian kata itu diubah menjadi kata benda targhib yang mengandung makna suatu harapan untuk memperoleh kesenangan, kecintaan dan kebahagiaan yang mendorong seseorang sehingga timbul harapan dan semangat untuk memperolehnya(Syahidin, 1999: 121). Metode ini akan sangat efektif apabila dalam penyampaiannya menggunakan bahasa yang menarik dan meyakinkan pihak yang mendengar. Artinya Islam memerintahkan kepada manusia untuk menggunakan akalnya dalam membedakan antara yang benar dan salah atau yang baik dan buruk (Hery Noer: 193). Penggunaan metode persuasi ini dalam pendidikan Islam menandakan bahwa pentingnya memperkenalkan dasar-dasar rasional dan logis kepada peserta didik agar mereka terhindar dari meniru yang tidak didasarkan pertimbangan rasional dan pengetahuan.

Komentar